“Seribu orang tua hanya dapat bermimpi,satu orang anak muda
dapat mengubah dunia.”
Masyarakat awam tentunya tidak asing lagi dengan kalimat
tersebut.Apalagi para nenek moyang
pejuang bangsa yang hidup pada era kemerdekaan hingga berakhirnya rezim Bung Karno.
Potret para penerus
perjuangan bangsa itu ternyata hanya menjadi semboyan belaka.
Satu orang anak muda dapat mentransfer arus free sex.
Satu orang anak muda dapat menyapu bersih kebudayaan
Indonesia.
Satu orang anak muda dapat mencetak puluhan narkotika.
Kehormatan sosok pemuda yang merupakan cikal bakal bangsa
tersebut akhirnya ternodai.Lantunan sajak indah Chairil Anwar tergantikan
dengan gemblengan drum yang keras diiringi dengan syair-syair pemanggil
setan.Beribu coretan pena Pramoedya Ananta Toer kini musnah ditelan
jepretan-jepretan tang an jahil pemuas nafsu.
Gemerlap lampu kelap-kelip ditempat yang berjulukan ‘Club’
itu ternyata lebih mempesona ketimbang gedung-gedung sederhana yang berisikan
barang-barang kuno.
Film-film penggairah nafsu berkedok misteri pun lebih
dihalalkan oleh pemerintah daripada dokumenterisasi G 30 S/PKI.
Inilah potret kekinian masa depan Indonesia diusianya yang
baru mencapai satu abad lebih.
Buktinya,Indonesia menempati rangking pertama sebagai
pengunduh video porno terbesar didunia,dengan indikasi mayoritas penoreh
prestasi tersebut adalah segerombolan manusia yang berstatus sebagai ‘pemuda’.
Pencapaian terbesar lain adalah setiap harinya rata-rata dua
video porno berhasil diproduksi di Indonesia.Akibatnya adalah terjadi
peningkatan drastic kasus sex bebas dan kehamilan tidak diinginkan di era
belakangan ini.Dengan latar belakang Negara Islam,rasa malu menjadi hal yang
tabu di kalangan pemuda Indonesia.
Lihat saja kasus video porno dua orang artis muda Indonesia
dipertengahan tahun 2008 dianggap sebagai hal yang wajar diera
globalisasi.Gambar-gambar dua orang insan sedang bermesuman yang beredar bebas
di internet dianggap sebagai tren,bahkan tak sedikit yang mengatakannya
sebagai seni.
‘Seni menjual identitas bangsa”.Itu julukan yang tepat untuk
tindakan-tindakan para pemuda tunas bangsa beberapa dekade terakhir ini.
Karena kenikmatan yang tiada habis-habisnya itu,perlahan
item-item budaya Indonesia berpindah tangan ke bangsa lain.
Secara tidak langsung pemuda lah yang memiliki peran besar
atas transaksi jual-beli budaya ini.
Diawal tahun 2000-an atau yang khas disebut zaman
millennium,pemuda Indonesia membeli budaya hidup hedonisme dari bangsa Malaysia
yang saat itu sedang gentar-gentarnya di pengaruhi oleh kebudayaan barat.Sebagai
gantinya sekarang Indonesia menjual budaya tarian lokal kepada Malaysia yang
notabene mulai miskin budaya.
Bukan bermaksud menyalahkan para pemuda Indonesia seutuhnya.Memang
tidak semua pemuda akan melakukan hal dan aksi yang sama.Tapi hasil penelitian
dari sebuah lembaga riset ibukota mengatakan bahwa 66% remaja putri Indonesia
sudah kehilangan virginity-nya dan 50% pemuda Indonesia terbukti telah
melakukan seks bebas.Itu jelas-jelas membuktikan bahwa persentase pemuda lebih
major dalam mengukir pretasi di bidang seks ketimbang yang dewasa.
Indonesia tidak bisa disamakan dengan Amerika Serikat yang
membiarkan remaja putrinya menempati angka kehamilan tertinggi setiap tahunnya.
Perilaku non-sunnah rasul ini telah mencoreng identitas
bangsa sebagai Negara dengan penduduk muslim terbanyak didunia yang menganut
east culture.
Tapi bukan tidak mungkin semua prestasi-prestasi
mengecewakan itu diganti dengan nilai-nilai asli Indonesia yang lambat laun
mulai memudar.
Banyak hal yang dapat kita tiru dari pemuda bangsa barat
untuk memajukan bangsanya.Tapi tidak sedikit juga yang harus kita saring untuk
dijadikan gaya hidup.
Ingatlah akan semboyan yang pernah diucapakn Bung Karno
tersebut.Maju terus pemuda Indonesia
Oleh:Duma Sarah,pelajar kelas XI SMA N Modal Bangsa Banda
Aceh.
0 komentar:
Posting Komentar